They are . . .
Pernah gak kamu mencoba untuk berjalan sendiri, melangkah dan merasakan setiap keadaan yang ada disekeliling kamu dan melihat serta mengukir cerita disetiap apa yang kamu lihat. Humm.. Sebagian diantara kalian akan menjawab "Dari pada sendiri mending barengan sama teman saling berbagi dengan apa yang kita lihat". Tapi tahu gak kalau disetiap langkah dan apa yang kalian lihat akan memberikan cerita tersendiri serta berfikir realistis di hidup ini.
Kali ini saya ingin menjabarkan beberapa dari orang yang pernah saya kenal dan menjadi temen-temen saya sekarang. Dan karena mereka saya tahu betapa susahnya untuk mempertahankan hidup. Setiap orang pasti memiliki teman disekeliling mereka. Setiap orang pasti pernah merasakan kerjasama dengan individu lain, termasuk saya sendiri. Saya punya beberapa teman, dan dari beberapa itu mereka berbagi cerita kepada saya bagaimana mereka mempertahankan hidup mereka demi orang-orang tersayang yang ada disekeliling mereka.
Saya berteman dengan seorang pengamen. Disetiap harinya ia tidak pernah lupa akan tanggungjawab dia sebagai murid ketika itu dan dia juga tidak pernah lupa dengan keadaan dia dan keluarganya yang pas-pasan. Pagi hari ia harus bersekolah dan melakukan kegiatan sebagaimana layaknya murid. Tetapi diluar itu dia berkeliaran dari lampu merah ke lampu merah lainnya, dari bus ke bus yang lainnya demi mencari uang buat makan dan kebutuhan adik-adiknya. Ketika itu tidak hanya dia yang mencari uang tetapi adik-adiknya juga ikut berkeliaran demi kebutuhan mereka. Lalu bagaimana dengan orang tuanya ?. Yang saya tahu dia hanya punya seorang ibu yang pekerjaannya membantu ibu-ibu rumah tangga lain. Tetapi dia tidak pernah malu dengan apa yang dia jalani, bahkan ia sangat menikmati pekerjaannya.Saya berteman dengan seorang pengedar narkotika. Pertemanan yang dijalani tidaklah berbeda dengan orang sebagaimana seharusnya. Kami saling cerita saling memberi masukan satu sama lain. Dan ketika itu dia bercerita siapa diri dia sebenarnya bahwa dia seorang pengedar narkotika dan dikejar-kejar oleh polisi dari daerah asalnya. Takut, kecewa, merasa gak yakin atau apalah sejenisnya itu, langsung muncul tiba-tiba di fikiran saya. dia menceritakan bagaimana dia bisa melakukan hal-hal seperti itu. Bagaimana dia bisa lolos dan pergi ke daerah lain untuk menyelamatkan diri. Dan itu semua karena keluarganya, demi orang tua dan adik-adiknya. Tetapi, tekatnya kuat untuk menyelesaikan sekolah wajibnya sebagai murid saat itu. Dia juga pernah bercerita ketika itu dia ingin sekali mengikuti sebuah perlombaan tingkat nasional, tetapi orang tuanya menganggap sepele setiap tindakan yang dia lakukan. Disituasi yang sama sekali tidak mendukungnya, ia mampu membuktikan kepada orang tuanya bahwa dia masih bisa membanggakan mereka. Sebelum itu dia berkeliaran dijalanan mencari uang dan lagi demi kebutuhannya. Dan akhirnya orang tuanya tak sanggup berkata apa-apa ketika dia berhasil membuktikan tekatnya.
Saya juga berteman dengan seorang pemakai narkotika dan peminum minuman beralkohol. Diluar dia mampu banting tulang dan apa yang pernah terjadi padanya hanya pengaruh pergaulan yang ia tapaki. Bekerja dijalanan, loper koran, hingga akhirnya masuk rumah sakit karena sabu-sabu yang dia gunakan. Tetapi dari situ dia bisa menyekolahkan adiknya hingga mendapatkan beasiswa ke Jepang.
Walapun saya punya berbagai temen dengan latar belakang yang berbeda-beda, tetapi saya tidak pernah bermasalah dengan mereka. Mereka dari kalangan model, sastrawan, musisi, seni, dokter, berkutik didunia sosial, punya cerita dan kisah tersendiri dalam mencapai keinginan yang mereka inginkan. Ketika saya diberi pilihan hidup dengan masyarakat dijalanan atau bergabung dengan mereka-mereka yang merasa bahwa mereka dari keluarga yang memiliki derajat dan menjalani hidup dengan terbatas karena aturan-aturan. Maka saya akan menjawab bahwa saya akan hidup dijalana. Kenapa ?. Karena saya akan tahu bagaimana menghargai orang, saya akan tahu apa itu solidaritas, dan saya juga tahu apa itu hidup. Dengan begitu saya akan lebih menghargai dalam setiap yang saya alami.
Saya termasuk salah seorang yang ketika di awal sangat susah untuk membuka diri dengan orang lain. Tidak mudah percaya dengan orang yang baru saya kenal. Dan terkadang saya suka bingung mencari topik yang pas utnuk memulai obrolan dengan orang yang pertama dikenal. Tetapi saya mencoba pelan-pelan untuk berbagi cerita dengan mereka. Dan hasilnya saya mendapatkan ribuan pelajaran dan makna.
Apapun keadaan yang teman-teman kalian alami, jangan pernah menjauh dari mereka. Karena kita lah yang mereka butuhkan disaat mereka terjatuh. Ketika mereka bercerita kita tidak perlu memberikan saran, kritikan atau apapun itu. Mereka hanya butuh kita untuk mendengarkan setiap cerita yang mereka lontarkan. Peluk dan senyum kepada mereka itu sudah lebih dari cukup. Kita hanya butuh mendengar. Mengdengar setiap kejadian yang belum pernah kita dengar. Mendengar jeritan kebahagiaan dan mendengar derita mereka. Ambil makna dan pelajaran dan jadika itu sebuah pengalama.
nice history (y)
ReplyDelete*tossssss*